Catatan Kak Ita, peserta pelatihan dan guru Sekolah Tetum Bunaya:

Sabtu 17 September 2011 kami bersepuluh –guru dan staf Tetum Bunaya– mengikuti pelatihan Montessori di Fundi Montessori Training Center, Kelapa Gading, Jakarta. Di sana kami tidak hanya mendapat bimbingan dari Ms Ratna Saputra dan Ms Emmy Suparmin, pendiri Popay dan Satori Montessori serta trainer pada Fundi Montessori, namun juga berpartisipasi aktif untuk lahir kembali. Hmm lahir kembali? Lebay gak seeh? Sama sekali tidak, di hari itu kami merasa lahir kembali dengan pemahaman baru tentang anak.

Ms Emmy dan Ms Ratna (duduk depan) bersama kakak-kakak Tetum.

Pada sesi pertama kami diperkenalkan dengan sosok Dr. Maria Montessori; mengenai asal-usulnya dan bagaimana beliau mengembangkan metode Montessori. Salah satu prinsip dalam Montessori adalah pemberian hal konkret kepada anak usia dini, karena mereka berada pada tahap konkret dan menyerap informasi dari sensori mereka. Anak-anak di tahap itu belum mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, dan segala sesuatu yang kita berikan untuk pengembangan mereka perlu disesuaikan dengan cara belajar mereka.

Sayangnya, anak-anak masa kini justru diberi stimulasi dengan hal yang abstrak, di saat kondisi berpikir mereka belum dapat mencermati hal itu. Contohnya adalah penayangan film kartun dengan tokoh-tokoh imajiner. Film kartun ditayangkan di media eletronik yang bebas diakses siapa pun, dan menjadi populer. Popularitas film kartun pun membentuk paradigma bahwa hal abstrak yang disajikan adalah sebuah kebenaran, sehingga prinsip bahwa anak seharusnya belajar dari hal konkret pun tak pernah dikenal.

Pembahasan tentang pengaruh film kartun terhadap jaringan otak menyadarkan kami untuk lebih berhati-hati dalam memberikan stimulasi kepada anak. Sesungguhnya, apabila anak mendapat stimulasi yang benar, dengan pemberian cerita-cerita seperti apa adanya, maka anak akan terbantu untuk mengembangkan cara berpikir yang logis dan jernih.

Bu Ratna menyampaikan bahwa seorang anak terlahir sebagai human spiritual. Dari anak-anak kita belajar banyak hal, seperti kesabaran, pengasih, pemaaf, penyayang dan penolong. Contohnya saja, sekalipun seorang anak dimarahi ayah bundanya, ia tetap memaafkan  dan sayang pada ayah dan bundanya. Berarti anak adalah pemaaf, penyayang sekaligus sabar, bukan?

Karakter itu dimiliki anak sebagai bagian dari penciptaannya. Ketika berada di tahap Embrio (Fase I) anak berada di dunia yang tenang, dan nyaman, namun setelah lahir (Fase II) ia langsung memasuki kehidupan yang mengejutkan. Ada sinar, suara, udara yang membuatnya harus beradaptasi. Apalagi setelah ia tumbuh menjadi lebih besar, ia mengalami tekanan-tekanan dari sekelilingnya dan harus mengikuti tuntutan lingkungan. Ada tuntutan harus duduk diam dan patuh, pada saat ia ingin bereksplorasi dan bergerak. Ada tuntutan harus bisa membaca menulis dan berhitung, pada saat serabut otak bagian luarnya belum berkembang dengan baik. Dalam menghadapi lingkungan yang dipenuhi dengan standar yang tidak sesuai dengan perkembangannya itu, anak menghadapinya dengan penuh kesabaran, penyayang, pengasih, pemaaf dan penolong.

Dengan uraian Ms Ratna, kami pun berpikir alangkah indahnya apabila kita mengembangkan anak sesuai dengan tahapannya, bukan sesuai dengan keinginan kita.

Bila di sesi Ms Ratna perasaan kami diguncang-guncang dengan apa yang selama ini dialami anak-anak, maka pada sesi Ms Emmy kami menjadi anak-anak. Apalagi Ms Emmy mendorong kami untuk membuat afirmasi tentang diri kami sesuai dengan karakter positif masing-masing. Wah tentu saja kami malu karena sepertinya memuji diri sendiri. Tidak. Ms Emmy sesungguhnya mendorong kami untuk melangkah dengan energi positif yang kami miliki. Jadi di antara kami ada Penyayang (Kak Ria), Ceria (Kak Aas), Disiplin (Kak Wiwik), Pemikir (Kak Vina), Penuh Pengertian (Kak Ami), Penenggang Perasaan (Kak Fitri), Pekerja Keras (Kak Aisa), Pemaaf (Kak Dewi), Percaya Diri (Kak Leli), dan saya sendiri hmm … apa ya? Teman-teman bilang saya cocok menjadi Baik Hati (aduuh, amiiin).

Afirmasi itu memang menggerakkan, karena kami menjadi lebih bersemangat dengan label positif yang kami miliki. Insya Allah menjadi doa ya.

Dengan  afirmasi itu kami mengikuti games menarik untuk melatih daya ingat, fokus dan keseimbangan, bersama Ms Emmy. Beliau juga mengajak kami menyelami kesulitan anak dalam mengerjakan sesuatu bila ia belum menguasai. Ya, kami diminta menulis dengan tangan kiri, yang ampyuun syusyahnya. Terbayang bila anak dituntut untuk menulis padahal kemampuan tangan dan berpikirnya belum sesuai….

Hari itu menjadi awal bagaimana seharusnya kita dapat berperan untuk anak, bukan anak mengikuti tuntutan yang kita buat.

Menulis dengan tangan kiri … hmm ternyata sulit ya mengerjakan sesuatu bila kita belum kuasai.

Hayo cepat dan harus bagus tapi dengan tangan kiri!


Melihat penataan alat peraga.

Kak Ita dan Ms Emmy.