Catatan Kak Ami, guru Kelas Antariksa:

“Selamat pagi, Adik-Adik,“ sapa Kak Ami di hari Senin 22 Oktober 2012.

“Selamat pagi, Kak Ami dan Kak Gina,” jawab Adik-Adik.

“Apa kabar hari ini?”

“Baik.”

“Pagi ini Adik-Adik  akan mengenal binatang kurban. Siapa yang tahu binatang apa saja yang dikurbankan?” tanya Kak Ami lagi.

Adik-Adik dengan tidak sabar mengangkat  tangan dan menjawab: “Sapi, kambing, kerbau, domba, unta…”

“Ya betul sekali, semua benar,” kata Kak Ami. “Hari ini kita akan keluar kelas dan membeli kambing?”

“Horeeeeee….,” teriak mereka.

Mereka pun bersiap- siap dan mengambil sandal, lalu berbaris di depan pintu, dan berjalan dengan antusias.

Kak Samsul, Ketua Panitia Kurban, ikut mendampingi, dan membimbing Adik-Adik untuk menuju ujung jalan Timbul IVB. Di sana Kak Samsul sudah membuatkan tempat penjualan kambing, dengan mengajak penjual kambing untuk membuka lapak di sana. Tujuannya adalah agar Adik-Adik tidak berjalan terlalu jauh dan cukup aman.

Sesampainya di sana Adik-Adik dengan antusias memilih kambing (sebelumnya Kak Samsul sudah memilihkan kambing yang akan diberikan kepada Antariksa, namun dibuat skenario bahwa Adik-Adik boleh memilih).

Vino dan beberapa anak suka kambing berwarna cokelat, sedangkan Khondji dan beberapa anak lain tertarik yang hitam.

Mereka pun ramai-ramai bertanya: Berapa harganya? Berapa umurnya? Makanannya apa?

Lalu Kak Samsul memberikan uang kepada Adik-Adik untuk diberikan kepada penjual.

Setelah membayar, mereka membawa kambing ke sekolah dan Kak Samsul membantu mengikat di bawah pohon bambu. Adik-Adik dengan antusias memberi makan rumput, bahkan Abira da Keiza pun mengelus-elus kepala kambing.

Ow, Irfan dan Thifa tak berani mendekat.

Keesokan harinya Adik-Adik membeli lagi untuk pekurban lain. Mereka senang sekali diajak membeli kambing, apalagi karena mereka akan melihat sapi juga.

Kak Samsul  pun mengajak Adik-Adik ke tempat pembelian kambing yang kemarin. Di sana ada empat kambing dengan warna yang berbeda. Ketika ditawarkan, spontan mereka memilih. Mewakili teman-temannya, Rayyan memilih dengan warna hitam, Amel  warna cokelat dan Haliza warna kecoklatan lebih terang.

Rayyan pun bertanya, “Berapa harga kambingnya, Pak?”

“Satu setengah,” jawab penjual kambing.

“Satu setengah?”  Rayyan bertanya lagi.

“Satu juta lima ratus,” penjual kambing memperjelas keterangannya.

“Boleh kurang nggak, Pak?”

“Nggak boleh jawab, Nak,” kata penjual kambing.

“Kalau lima ratus ribu aja boleh, Pak?” tawar Rayyan kepada penjual kambing.

“Tidak boleh. Harganya sudah pas.”

Akhirnya disepakati harga itu. Mereka membeli tiga kambing. Kak Samsul memberikan uang kepada Adik-Adik dan mereka membayar secara bergantian.  Mereka pun membawa kambing-kambing itu ke area Kelompok Bermain. Dua kambing yang mereka beli sehari sebelumnya sudah dipindahkan Pak Mochtar –penjaga sekolah– ke sana.

Ketika di dalam terlihat dua sapi, Adik-Adik tambah antusias. Mereka pun memberi makan kambing dan sapi.

Alhamdulillah, ternyata Kelas Antariksa masih mendapat amanah untuk berbelanja hewan kurban lagi. Kali ini mereka diminta membeli domba. Wow! Maka pada hari Rabu tanggal 24 Oktober 2012 Adik-Adik berangkat membeli domba. Mereka jadi tahu beda kambing dan domba.

Hewan-hewan yang sudah mereka beli, mereka serahkan ke mesjid hari itu. Pada sesi penyerahan hewan kurban, Adik-Adik diajarkan cara menyerahkan hewan kurban kepada Pak Idris, pengurus Mesjid At-Taubah. Bu Atty, pngajar Iqro pun membimbing mereka dalam mengucapkan kata-kata penyerahan.

Usai menyerahkan, Haliza tampak sedih. “Kak, aku jadi sedih melihat kambingnya mau dipotong.”

Memilih dan membeli hewan kurban.

 

Mengamati, dan memberi makan hewan kurban.

Asyiik ... saat mengamati hewan kurban yang ditaruh di halaman Kelompok Bermain, anak-anak Antariksa bermain pasir dan naik titian.

Menyerahkan hewan kurban.

 

 

 

Open chat