Hari Selasa, 27 Januari 2015, setelah adik-adik pulang, kami bersiap untuk berangkat ke TIM. Kakak-kakak yang pergi adalah kak Endah, kak Wiwik, kak Lely, kak Samsul, kak Jeri, kak Intan, kak Fifi, kak Dedien dan kak Nita. Kakak SD yang lain tidak dapat ikut karena masih ada tugas dan ada yang sedang kurang enak badan. Tapi tenang, walaupun tidak ikut, kegiatan kami tetap terpantau lewat foto dan update di group Whatsapp 🙂

Kak Lely dan kak Samsul pergi ke stasiun Lenteng Agung terlebih dulu untuk membeli tiket. Ketika kami tiba di stasiun pukul 2 siang kak Lely langsung membagikan tiketnya. Karena kereta tujuan kami sudah datang, kami berlarian takut ketinggalan kereta (padahal kereta berikutnya juga ada sih) dan alhamdulillah semua bisa naik tepat pada waktunya. Perjalanannya ternyata cukup singkat hanya kurang lebih 30 menit, baru merasakan mendapat tempat duduk, kereta sudah sampai di stasiun Cikini.

.

Dari stasiun Cikini, kami bertujuh memutuskan naik bajaj menuju Taman Ismail Marzuki. Perjalanan sore yang menyenangkan walaupun harus duduk berdesakan… Tak lama, sampailah kami di TIM berbarengan dengan kak Jeri dan kak Dedien yang naik motor. Saat memasuki TIM, beberapa kakak sempat teralihkan perhatiannya dengan beberapa tempat hiburan yang ada.

Kak Endah mengajak kami ke galeri tempat pameran lukisan, namun sebelum masuk, ternyata ada persyaratan khusus, yaitu:

Setelah masuk, kami baru sadar ternyata barusan kami dikerjain kak Endah. Pameran itu gratis, dan bisa langsung masuk tanpa selfie dulu 😀 Tapi tidak apa-apa, paling tidak semuanya kompak dengan status #JJLL sore itu, hehehe…

Pameran lukisan di Galeri Cipta III itu bertema “Membuka Ruang Gagasan” dan menempati dua lantai galeri tersebut. Pameran diikuti oleh para perupa yang tergabung di Ikatan Alumni Seni Murni IKJ dan berlangsung dari tanggal 22  sampai 31 Januari 2015. Di antara peserta pameran, terdapat dua seniman yang dikenal Tetum, yaitu kak Guntur Wibowo, yang melukis mural di Tetum, dan kak Fachriza Jayadimansyah (kak Riza), salah satu anggota tim mural.

Begitu masuk, kita langsung disambut lukisan kak Guntur dan lukisan wanita Betawi di sebelahnya.

Lukisan Karya Kak Guntur

 

Selain lukisan, disana juga dipamerkan patung dan karya instalasi yang mengandung kritik dan sindiran, sesuai dengan judul pameran yang mengedepankan gagasan. Seperti karya kak Riza dibawah ini.

Seni Instalasi Karya Kak Riza

Ada juga tokoh pewayangan besar yang diparodikan dengan busana sensual, dan beberapa karya yang menunjukkan kreatifitas seniman dalam berekspresi seperti melukis di atas palet cat.

Di lantai 2, kami disuguhi beberapa karya lain seperti lukisan tentang era reformasi, keluarga dan beberapa lukisan abstrak lainnya. Pencahayaan di lantai 2 lebih redup dan membuat kesan misterius. Ada juga karya lukisan yang dibuat dari papan cuci penggilasan tradisional, bahkan beberapa lukisan tampak bebas sekali tehnik pewarnaannya. Kak Guntur berkesempatan datang dan mendampingi kami melihat pameran.

Ada satu instalasi yang unik, yaitu berupa “curhatan” mahasiswa seni tentang tumpukan karyanya di gudang. Ketika semua seniman menunjukkan hasil karyanya, seniman itu hanya menaruh tumpukan lukisan tua yang terbungkus kertas dengan bagian-bagian kertas yang robek.

Selesai melihat-lihat pameran, foto-foto (yang pastinya langsung di upload lagi ke group) serta bertanya-tanya dengan kak Guntur, kami meninggalkan gedung pameran dan istirahat sejenak sambil menyantap mpek-mpek kapal selam disebuah warung tenda. Lalu kami sholat di gedung Planetarium. Sebelum sholat, kak Nita, kak Intan dan kak Fifi iseng mampir ke loket untuk foto waktu pertunjukan. Sempat di tawari masuk ke pertunjukan terakhir sore itu, tapi kami tolak karena takut kemalaman.

 

 

Setelah sholat Ashar, kami berfoto dulu didepan gedung Teater Jakarta. Kak Dedien bilang, ia dulu pernah nonton pertunjukan “Laskar Pelangi” di tempat ini. Kak Endah minta tolong seorang gadis berseragam SMP untuk memfoto kami. Dan hasilnya…. bagus! Lalu kak Endah, kak Lely dan kak Wiwik pamit pulang duluan sementara sisanya melanjutkan berfoto-ria. Kak Intan dan kak Samsul sempat melihat-lihat isi toko buku bekas didekat situ, lalu kami pulang naik bajaj lagi, dan naik kereta lagi sampai tujuan masing-masing.

 

Ditulis dan diilustrasi oleh kak Intan

Open chat