Jam 08.30 semua adik sudah berkumpul, dan kami semua siap untuk berangkat. Oh iya, ada 8 Kakak-Kakak yang ikut mendampingi adik kelas Saturnus. Tak terasa jam 10.30 kami semua sudah tiba di Kampung Budaya Sindang Barang. Disambut alunan angklung gebrak dan lumpang pemumbuk padi, juga minuman es pala yang segar sekali.

 

Setelah haus hilang, kami pun beranjak menuju penginapan. Penginapannya asri dengan bilik-bilik bambu dan juga terasa hangat dengan panggung kayunya. Disini udaranya segar dan sejuk walaupun di siang hari. Sambil menunggu makan siang adikadik menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Berbagai pose dilakukan mulai dari pose formal, melompat sampai tidur-tiduran di rumput. Wah.. senang dan puas sekali berfoto disini, karena rumputnya hijau dan latar bangunan lumbung padi memuat foto-fotonya terlihat indah. Tapi ada yang kurang, ada satu adik yang belum dapat hadir di kegiatan karyawisata ini, karena masih dalam pemulihan dari sakitnya. Mudah-mudah nanti ada kesempatan lain, agar adik-adik kelas Saturnus dapat bekumpul semua yaa..

Akhirnya makanan siap, menu siang ini ikan mas cobek (kalau di Jakarta mirip pecak), karedok, bakwan jagung, sambal dan lalap. Adik-adik lahap saat makan, tidak lupa sebelumnya berdoa bersama. Setelah perut kenyang, adik-adik mencoba permainan Tulup dan Bakiak. Pantang menyerah adik-adik mencoba sampai bisa.

Bukan Bogor namanya kalau tidak hujan, iyaa siang menjelang sore ini hujan mengguyur tapi tidak menyurutkan semangat adik-adik. Saat hujan sudah mulai reda kegiatan seru lainnya menanti. Yang pertama menangkap ikan, menangkap yaa bukan memancing. Area yang dipakai untuk menangkap ikan adalah sawah yang tidak ditanami padi kalau sebutan adik-adik ‘empang cetek’. Ternyata susah yaa menangkap ikan dengan tangan kosong, geli-geli dan harus menjaga keseimbangan. Tapi bukan adik Tetum kalau menyerah begitu saja, adik-adik terus berusaha menangkap ikan, dan usahanya membuahkan hasil. Hampir semua adik berhasil menangkap ikan. Dari total 30 ikan yang disebar 20 ikan berhasil ditangkap, yang 10 kita relakan saja yaa ;).

Belum puas menagkap ikan, dua kerbau menghampiri siap untuk dimandikan. Ada yang takut-takut tapi ada juga yang berani untuk memegang kerbaunya. Bahkan ada juga yang berani menaiki kerbau, dibawa berjalan dan akhirnya ‘buk’ dijatuhkan. Untung saja permukaan sawah tidak keras. Dengan senyum lebar Ia berdiri kembali dengan warna kerudungnya yang sudah berubah dari putih menjadi cokelat. Pastinya kejadian ini akan menjadi kenangan manis untuknya. Beberapa adik juga terlihat berusaha untuk menaiki kerbau dan tentunya berhasil dong. Setelah itu adik-adik juga mencoba menanam padi. Wah ternyata tidak mudah lho..mengatur jarak antar padi dan menamcapkannya ke tanah diperlukan ketelitian dan perkiraan yang pas.

Badan sudah berlumur tanah dan juga gerimis hujan tidak juga menyurutkan semangat adik-adik untuk melanjutkan main. Kali ini mereka bermain sepak bola di lapangan di depan penginapan. Bukan hanya adik laki-laki saja yang ikut, adik-adik perempuan juga ikut bermain -dan Kakak-Kakak pun tidak mau kalah untuk ikut bermain. Sampai waktunya ashar, adik-adik baru bergegas mandi dan sholat berjamaah di Mushola.

Menjelang Maghrib, Pak Ukat  sudah menunggu untuk menjelaskan sejarah Kampung Budaya Sindang Barang. Jadilah adik-adik segera ke aula untuk mendengarkan penjelasan sejarah Kampung Budaya Sindang Barang.

Setelah sholat, saatnya makan malam karena seharian lelah bermain sepertinya malam ini adik-adik makan lebih lahap. Tentunya menunya juga enak sekali yaitu soto daging kuah kuning dan perkedel kentang. Adik-adik juga dihibur dengan tarian Jaipong yang dibawakan dengan anggun dan lincah oleh dua penari asli Kampung Budaya Sindang Barang

Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu malam refleksi. Adik-adik memegang lilin, lampu pun dimatikan, adik-adik berjalan memutari elips dan Kakak membacakan sejarah hidup adik-adik kelas Saturnus dari awal masuk kelas Merkurius. Suasana haru mulai terasa, saat pembacaan sejarah hidup selesai adik-adik membagikan ‘thank you note’ kepada Kakak-Kakak. Adik-adik juga secara bergantian mengungkapkan perasaanya saat itu, ada tangis haru dan bahagia disana. Saat suasana sudah berangsur ceria kembali, Kakak memberikan apresiasi kepada beberapa adik dengan berbagai kriteria seperti yang datang pertama saat berkumpul di pos RW, yang pertama berhasil menancapkan tulup, yang pertama mengumpulkan PR Bahasa Indonesia, yang pertama memiliki keberanian menaiki kerbau, dan satu lagi apresiasi untuk adik yang senantiasa mendukung kegiatan karyawisata dengan baik. Malam ini ada satu adik yang mendapatkan 2 hadiah, mudah-mudahan dapat memotivasi adik-adik yang lain juga yaa.

Malam sudah semakin larut, namun adik-adik belum juga tampak lelah dan menyetujui untuk membakar ikan yang sudah berhasil ditangkap. Ternyata mereka hanya semangat membakarnya saja tapi tidak mau makannya. Alhasil Kakak-kakak juga yang menghabiskan.

Pagi hari diawali dengan sholat subuh dan dilanjutkan olahraga pagi yang dipimpin Kak Ikhwan. Setelah itu adik-adik mandi, sholat dhuha, dan sarapan. Saat sarapan, salah satu orang tua murid kelas Saturnus datang untuk mendukung kegiatan karyawisata ini. Setelah sarapan, saatnya napak tilas situs kebudayaan yang ada di sekitar wilayah Kampung Budaya Sindang Barang bersama Pak Ukat. Menurut Pak Ukat jarak yang akan ditempuh 2.5 km sampai balik lagi ke penginapan. Baiklah itu sih tidak terlalu jauh.

Menyusuri pematang sawah, menaiki bukit, menyebrang parit, melihat berbagai tumbuhan seperti pohon pala, pohon duku, pohon menteng, sampai melihat bunga matahari..wah seru sekali!!. Tanpa terasa sudah setengah jam perjalanan tapi kok belum sampai juga yaa. Sepertinya ini lebih dari 2,5 km deh Pak Ukat. Situs pertama yang kai kunjungi adalah batu yang ukurannya sangat besar juga ada batu mirip ‘kursi malas’ di rumah salah satu warga. Situs terakhir yang kami kunjungi adalah bekas kampung adat yang pertama sebelum relokasi ke Kampung Budaya Sindang Barang. Perjalanan ke tiga situs ini sungguh melelahkan karena kontur tanah yang naik dan turun. Ada beberapa adik yang terlihat sudah sangat capek, tapi kita semua berusaha bersemangat untuk cepat sampai lagi di penginapan. Akhrinya jam 10.45 siang kami semua sampai dan beristirahat sejenak di aula sambil meminum banrek atau teh manis.

Setelah capek sedikit berkurang adik-adik membuat ‘Mini Book’ tentang perjalanan ke Kampung Budaya Sindang Barang. Segera setelah itu adik-adik mulai berkemas dan siap-siap untuk sholat zuhur dan makan siang. Menu makan siang hari ini ayam goring, sayur asem, tempe dan tahu, serta lalap dan sambal. Nyumm..adik-adik pastinya lahap saat makan.

Tak terasa saatnya kami semua harus pulang, tapi sebelumnya ada kegiatan terakhir yaitu menumbuk padi yang tentunya bersama Pak Ukat. Beliau juga memberikan cinderamata berupa orang-orangan dari padi yang sudah kering. Adik-adik pun memberi kenang-kenangan berupa gambar Kampung Budaya Sindang Barang yang dibuat bersama-sama.

Open chat